Senin, 27 Februari 2012

Sholat Dhuha: Rezeki Melimpah, Halal dan Berkah (Bagian 1)

Rezeki melimpah, halal dan berkah merupakan dambaan setiap orang. Apalagi disertai dengan kedudukan yang mulia dan ilmu yang bermanfaat maka sudah tentu merupakan harapan bagi setiap insan. Namun, untuk mencapai kenyataan ini tampaknya tidak mudah karena terkadang terlihat rezeki melimpah ruah, tetapi belum tentu halal derajat dan ilmu bermanfaat, tetapi rezeki hanya pas-pasan atau bahkan kedudukan tinggi, tetapi belum tentu mulia.

Inilah kenyataan yang kerap terjadi didalam belantara kehidupan. Karena itu ternyata uang yang melimpah kehormatan dan kedudukan bukanlah sesuatu yang dapat mengantarkan kepada keberkahan hidup yang sejati. Allah SWT berfirman:
“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS. Thaha 20 : 124).

Oleh karena itu untuk mengambil hikmah dari kenyataan diatas, hendaknya kita labih memilih rezeki yang halal dan berkah. Karena dengan rezeki yang berkah maka sudah tentu rezeki itu akan bisa bermanfaat bagi diri kita dan bagi orang lain. Sebaliknya, ketika rezeki banyak namun tidak berkah maka hal itu akan membawa diri pada titik kehinaan.

Buktinya banyak para konglomerat, pejabat berduit dan cukong-cukong, hartawan berakhir tragis dan tidak terhormat dalam kehidupannya. Kenyataan ini mengisyaratkan bahwa dengan rezeki yang melimpah tidak menjamin bahwa kehidupan mendapatkan keberkahan dari Allah juga kelimpahan rezeki tidak menjamin jika hidupnya harmonis bahagia atau bahkan membawa ketenangan hatinya Allah SWT berfirman: “Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha melihat. (QS. Asy-Syura 42 : 27).

Jika kadang memang demikian, mereka yang diberi kelimpahan rezeki ternyata mereka gunakan untuk ingkar kepada Allah. Ia belanjakan rezeki itu dijalan sesat yang berlumuran dosa, ia gunakan kelimpahan rezeki itu sekedar bersenang-senag didunia seperti mabuk-mabukan, main perempuan, berjudi dan sebagainya. Sayang sungguh sayang. Rezeki yang melimpah itu hanya ia manfaatkan untuk menemani setan yang terlaknat dan sayang sungguh sayang rezeki yang melimpah itu ia gunakan untuk mencari tempat di neraka.

Bukankan ini merupakan kebodohan yang sungguh mencolok dan lebih dungunya lagi ia tidak menyadari bahwa perilakunya itu mencelakakannya, bahkan ia tertawa seperti halnya setan yang sudah berhasil menjebaknya. Bukankah Allah sudah memperingatkan, agar memakan rezeki itu dengan sebaik-baiknya dan jangan mengikuti setan, sungguh setan adalah musuh yang nyata, kenapa justru mengikutinya ?

Allah SWT berfirman: “Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(QS. Al-An’am 6 : 142).

Sumber : Sholat Dhuha

1 komentar:

  1. <a href="http://www.accuratesiap.blogspot.com>Training & Program Accurate</a>

    BalasHapus